HCBBS Forum (Bahasa Indonesia)
Submit Chemical Projects / Find Solutions
Amplify Your Requirements on a Broader Chemical Platform *Engineering · Technology · Equipment · Solutions*
Submit Request

Ada satu pelatihan keamanan seperti ini, sudah cukup! | Manajemen

2016-11-22View Original

Thread Content

Pembelajaran pertama: Pengetahuan dasar tentang keselamatan kerja. Apa itu keselamatan kerja, dan apa manfaatnya? ☞ Produksi yang aman: Merupakan proses produksi di mana, melalui upaya untuk memperbaiki kondisi kerja dan mengatasi berbagai faktor yang tidak aman, diupayakan agar tidak terjadi kecelakaan. Dengan demikian, proses produksi dapat berjalan dengan lancar, sambil tetap menjaga keselamatan dan kesehatan para pekerja, serta keselamatan properti dan nyawa manusia. ☞ Termasuk dua aspek keamanan: 1. Keamanan pribadi. ( termasuk pekerja itu sendiri dan pihak-pihak terkait ) 2. Keamanan peralatan. Kerja keselamatan produksi: Serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mewujudkan keselamatan produksi yang baik. Apa pedoman keselamatan kerja di negara kita? Keamanan adalah yang utama, pencegahan harus didahulukan, dengan pendekatan pengelolaan yang komprehensif. Tanggung jawab utama karyawan terkait keselamatan kerja: 1. Mematuhi aturan-aturan yang berlaku mengenai perawatan dan pemeliharaan peralatan ; 2. Mematuhi aturan-aturan keselamatan kerja dan disiplin kerja secara sukarela ; 3. Rawat dan gunakan peralatan serta alat-alat dengan benar, pakailah perlengkapan pelindung yang sesuai ; 4. Perhatikan kondisi keselamatan kerja, dan sampaikan usulan-usulan yang masuk akal kepada para pemimpin atau departemen terkait ; 5. Jika ditemukan potensi bahaya atau faktor-faktor yang tidak aman, segera laporkan kepada pihak pengelola atau departemen terkait ; 6. Jika terjadi kecelakaan kerja, segera selamatkan korban, lindungi tempat kejadian, laporkan kepada atasan, dan bantu dalam proses penyelidikan ; 7. Berusahalah untuk belajar dengan giat, pahami pengetahuan dan keterampilan keamanan yang diperlukan, serta kuasai prosedur operasi dan aturan keamanan yang berlaku dalam pekerjaan tersebut ; 8. Berpartisipasilah secara aktif dalam berbagai kegiatan keselamatan, dan tanamkanlah sikap “keselamatan yang utama” serta kesadaran akan pentingnya melindungi diri sendiri ; 9. Berhak menolak perintah yang melanggar aturan dan paksaan untuk melakukan pekerjaan yang berisiko, serta bertanggung jawab atas keselamatan kerja pribadi. Pembahasan kedua: Hak dan kewajiban dasar. Hak-hak Anda terkait keselamatan kerja: 1. Hak untuk mendapatkan pelatihan mengenai keselamatan kerja sebelum memulai pekerjaan. 2. Hak untuk mengetahui informasi terkait keselamatan kerja serta hak untuk memberikan saran. 3. Hak untuk mengkritik, melaporkan, atau menuntut tindakan terkait manajemen keselamatan kerja. 4. Hak untuk menolak perintah yang bertentangan dengan aturan keselamatan atau perintah untuk melakukan pekerjaan yang berisiko tinggi. 5. Hak untuk menghentikan pekerjaan dan evakuasi dalam situasi darurat. 6. Hak untuk mendapatkan asuransi kecelakaan kerja dan kompensasi atas cedera yang terjadi. Kewajiban Anda dalam hal keselamatan kerja adalah: ☞ Mematuhi aturan dan peraturan yang berlaku, serta tunduk pada pengelolaan yang ada. ☞ Mengenakan dan menggunakan perlengkapan pelindung diri dengan benar. ☞ Ikut serta dalam pelatihan agar memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menjaga keselamatan kerja. ☞ Melaporkan potensi bahaya secepat mungkin.

Pembahasan ketiga: Pengetahuan dasar tentang keselamatan kerja.
Pengetahuan dasar 1: “Tiga alat penting” untuk keselamatan kerja: helm pelindung, sabuk pengaman, dan jaring pengaman.
Pengetahuan dasar 2: Empat prinsip untuk menghindari cedera: tidak menyakiti diri sendiri, tidak menyakiti orang lain, tidak menjadi korban cedera dari orang lain, serta melindungi orang lain agar tidak terluka.
Pengetahuan dasar 3: Tiga jenis pelanggaran: pelanggaran prosedur kerja, pelanggaran perintah atasan, dan pelanggaran disiplin kerja.
Pengetahuan dasar 4: Tiga hal yang harus dipenuhi: tidak ada pelanggaran dari individu, tidak ada potensi bahaya di tempat kerja, dan tidak ada kecelakaan di kelompok kerja.
Pengetahuan dasar 5: Pendidikan keselamatan tingkat tiga: Orang-orang yang baru masuk ke tempat kerja harus mengikuti pendidikan keselamatan di tingkat departemen, tim kerja, dan kelompok kerja, serta lulus ujian sebelum dapat bekerja.
Pengetahuan dasar 6: Prinsip “tiga bersamaan”: Fasilitas keselamatan dan kesehatan harus dirancang, dibangun, dan digunakan bersamaan dengan bangunan utama. 7. Prinsip “empat hal yang tidak boleh diabaikan” dalam penanganan kecelakaan kerja yang berhubungan dengan keselamatan produksi: yaitu, tidak boleh membiarkan penyebab kecelakaan tetap belum terungkap, tidak boleh membiarkan pihak yang bertanggung jawab atas kecelakaan tersebut tidak mendapat hukuman yang setimpal, tidak boleh membiarkan para pekerja tidak mendapatkan edukasi yang memadai, dan tidak boleh membiarkan langkah-langkah pengamanan tidak diterapkan dengan baik. 8. Dalam proses produksi, harus diterapkan prinsip “lima hal yang dilakukan secara bersamaan”. Artinya, saat merencanakan, mengatur, memeriksa, merangkum, dan menilai proses produksi, maka pekerjaan terkait keselamatan juga perlu direncanakan, diatur, diperiksa, dirangkum, dan dinilai secara bersamaan. Enam aturan keselamatan kerja: 1. Saat memasuki lokasi kerja, wajib memakai helm pengaman yang sesuai, pastikan kaitan helm terpasang dengan baik, dan gunakan perlengkapan pelindung diri secara benar. 2. Untuk pekerjaan yang dilakukan di ketinggian lebih dari 2 meter, jika tidak ada fasilitas keselamatan, maka harus memakai sabuk pengaman dan mengencangkan kait pengamannya. 3. Saat bekerja di ketinggian, dilarang melemparkan bahan atau alat-alat ke bawah secara sembarangan. 4. Berbagai peralatan mekanis bertenaga listrik harus memiliki sistem penghubung ke tanah yang andal, serta perlengkapan perlindungan dari sambaran petir, agar dapat digunakan. 5. Orang yang tidak memahami tentang peralatan listrik dan mesin dilarang keras untuk menggunakannya atau bermain-main dengan peralatan tersebut. 6. Orang yang bukan petugas operasional dilarang masuk ke area pengeceran. Tidak boleh ada orang yang berdiri di bawah tiang pengeceran tersebut. Sepuluh Aturan yang Tidak Boleh Dilanggar dalam Keselamatan Kerja 1. Jangan masuk ke lokasi pekerjaan tanpa mengenakan helm pengaman. 2. Kerja di ketinggian dilarang dilakukan tanpa menggunakan jaring pengaman atau sabuk pengaman. 3. Dilarang bekerja sambil mengenakan sepatu hak tinggi, sandal, atau berjalan tanpa sepatu. 4. Dilarang minum alkohol saat jam kerja, dan dilarang bekerja setelah minum alkohol. 5. Bahan-bahan yang digunakan untuk pekerjaan di ketinggian tidak boleh dibuang sembarangan. 6. Saklar daya tidak boleh digunakan untuk beberapa tujuan sekaligus. 7. Mesin-mesin mekanis tidak boleh dioperasikan dalam kondisi yang bermasalah. 8. Peralatan mesin yang tidak memiliki perlindungan keamanan yang memadai tidak boleh digunakan. 9. Jangan lakukan pekerjaan mengangkat benda menggunakan crane tanpa pengawasan, dan jangan lakukan pengangkatan jika titik pendaratan tidak dapat dilihat dengan jelas. 10. Di zona larangan kebakaran, dilarang merokok. Penggunaan perlengkapan pelindung yang benar – Pelajaran ke-4: Mengenal tanda-tanda keselamatan. Warna-warna keselamatan yang ditetapkan di negara kita digunakan untuk menyampaikan informasi terkait larangan, peringatan, instruksi, dan petunjuk keselamatan. Fungsinya adalah memungkinkan orang-orang untuk dengan cepat mengenali dan membedakan tanda-tanda keselamatan, sehingga mereka dapat lebih waspada terhadap bahaya dan mencegah terjadinya kecelakaan. Standar warna keselamatan di negara kita menetapkan empat warna, yaitu merah, kuning, biru, dan hijau, sebagai warna keselamatan. Pada saat yang sama, ditetapkan pula bahwa warna keselamatan harus tetap berada dalam rentang warna tertentu; warnanya tidak boleh memudar, berubah, atau terkontaminasi, agar tidak bercampur dengan warna lain dan menimbulkan kesalahpahaman. Definisi warna keselamatan: Merah: Warna ini sangat mencolok, sehingga dapat membangkitkan rasa antusiasme dan stimulasi pada orang-orang. Panjang gelombang cahaya merah cukup panjang, sehingga cahaya tersebut tidak mudah disebarkan oleh debu atau kabut. Dengan demikian, warna merah mudah dikenali dari jarak yang jauh. Artinya, warna merah memiliki daya tarik yang tinggi, serta kemampuan untuk dilihat dengan baik. Jadi, digunakan untuk menunjukkan bahaya, larangan, atau penghentian. Digunakan untuk tanda larangan. Tuas atau tombol penghentian darurat pada peralatan mesin, serta bagian-bagian yang dilarang disentuh, biasanya berwarna merah; warna ini juga sering digunakan untuk menandakan area yang tahan api. ☞Biru: Daya tarik dan kemudahan pengenalan warna biru tidak terlalu baik, tetapi ketika digabungkan dengan warna putih, efeknya sangat signifikan, terutama di bawah sinar matahari. Jadi, warna yang dipilih sebagai warna dengan flag instruksi harus dipatuhi. ☞Kuning: Garis-garis yang terbentuk dari kombinasi kuning dan hitam merupakan warna yang paling mudah dikenali. Warna ini mampu menarik perhatian orang-orang, sehingga digunakan sebagai warna peringatan, yang berarti peringatan dan harapan agar seseorang berhati-hati. Seperti mesin berbahaya di pabrik dan garis peringatan, garis tengah jalur lalu lintas, helm pengaman, dan sebagainya. ☞Hijau: Meskipun tingkat perhatian dan kemudahan pengenalan warna hijau sangat tinggi, warna ini merupakan simbol dari kesegaran, kemudaan, dan energi muda. Warna hijau juga memiliki efek psikologis yang positif, seperti rasa damai, keabadian, pertumbuhan, dan rasa aman. Oleh karena itu, warna hijau digunakan untuk memberikan informasi mengenai keamanan, sebagai petunjuk bahwa suatu tempat berada dalam kondisi aman atau layak untuk dilalui. Saluran evakuasi di dalam bengkel, tanda-tanda untuk pejalan kaki dan kendaraan, serta lokasi peralatan pemadam kebakaran dan peralatan perlindungan keselamatan lainnya ditandai dengan warna hijau. Petunjuk penting mengenai tanda keselamatan: Tanda keselamatan terdiri dari warna-warna keselamatan, bentuk-bentuk geometris, dan simbol-simbol grafis. Dibagi menjadi empat kategori: tanda larangan, tanda peringatan, tanda instruksi, dan tanda petunjuk. Pembahasan kelima: Sumber bahaya utama dan langkah-langkah penanganannya.
**Longsor dan runtuhan tanah**: Langkah-langkah penanganan utamanya adalah: ☞ Menyesuaikan rasio kemiringan lereng sesuai dengan kondisi tanahnya, sehingga lereng tersebut berada dalam kondisi stabil. Perlu juga dilakukan perbaikan lereng secara berkala. ☞ Selalu mengawasi kondisi lereng. ☞ Jangan berada di daerah yang berbahaya. ☞ Perhatikan tanda-tanda adanya keruntuhan lereng. ☞ Pastikan untuk memakai helm pengaman dan menggunakan listrik dengan hati-hati.

**Langkah-langkah penanganan penggunaan listrik**: ☞ Orang yang bukan teknisi listrik dilarang menyentuh peralatan listrik. ☞ Sebelum menggunakan berbagai peralatan listrik, periksa terlebih dahulu apakah ada kebocoran arus atau tidak, serta apakah koneksi groundingnya baik atau tidak. ☞ Semua peralatan listrik harus dilengkapi dengan alat pengaman anti-kebocoran arus, dan alat tersebut harus berfungsi dengan baik. ☞ Gunakan kabel berkualitas tinggi; hindari penggunaan kabel jenis gelatin. ☞ Dilarang menggunakan bahan konduktif seperti kawat untuk mengikat kabel listrik. ☞ Semua saklar listrik harus dicantumkan tujuannya dan orang yang bertanggung jawab atas penggunaannya. ☞ Pelajari cara pertolongan pertama saat terjadi sengatan listrik.

**Cedera akibat kendaraan**: Langkah-langkah penanganan utamanya adalah: ☞ Lokasi pekerjaan berada dekat dengan kota atau jalan raya, sehingga keselamatan lalu lintas sangat penting. ☞ Patuhi aturan lalu lintas. ☞ Pastikan fasilitas keselamatan kendaraan berfungsi dengan baik, termasuk lampu-lampunya. ☞ Saat berjalan bersama-sama, sebaiknya berjalan berbaris, bukan berderet. ☞ Kendaraan yang digunakan untuk perjalanan harian tidak boleh membawa penumpang dan barang sekaligus, tidak boleh melebihi kapasitas penumpang, dan tidak boleh melaju terlalu cepat.

**Cedera akibat mesin**: Langkah-langkah penanganan utamanya adalah: ☞ Lakukan pekerjaan sesuai dengan prosedur operasional yang ditetapkan. Lakukan perawatan mesin secara teratur, dan pastikan pemeriksaan pra-penggunaan dilakukan dengan baik. ☞ Pastikan semua fasilitas pelindung berfungsi dengan baik, terutama pelindung bagian transmisi generator dan saklar pada mesin pemotong. ☞ Saat mengoperasikan mesin yang memiliki komponen berputar, dilarang memakai sarung tangan atau pakaian yang terlalu longgar. ☓ Jangan berada dalam jarak putaran excavator. ☓ Dilarang menggunakan alat berat seperti backhoe atau loader untuk mengangkut manusia.

**Cedera akibat alat angkat**: Langkah-langkah penanganan utamanya adalah: ☞ Semua peralatan angkat harus diperiksa terlebih dahulu sebelum digunakan, dan harus memiliki dokumen pendukung yang lengkap. ☞Peralatan angkat harus menjalani pemeriksaan khusus sebelum digunakan, dan hanya boleh digunakan setelah lulus pemeriksaan tersebut. ☞Pengoperasikan crane dan petugas pengendali crane harus menjalani pelatihan khusus terlebih dahulu sebelum dapat bekerja dengan memegang sertifikat. ☞Tali baja dan tali pengangkat perlu diperiksa setiap shift. Sebelum crane dihidupkan, pastikan bahwa segala hal yang berkaitan dengan keselamatan sudah dipastikan terpenuhi sebelumnya. ☞ Tidak ada seorang pun yang boleh berada di bawah benda yang sedang diangkat. ☞ Pengemudi crane harus mengikuti sinyal penghentian yang diberikan oleh siapa saja. ☞ Dilarang keras memasukkan barang-barang ke dalam kabin crane bersama dengan orang-orang. Langkah-langkah pencegahan utama: ☞ Dilarang melakukan pekerjaan di ketinggian secara bersamaan, kecuali jika ada perlindungan yang memadai. ☞ Saat memasuki area kerja, wajib memakai helm pengaman dan mengikat tali pengamannya dengan baik. ☞ Barang-barang yang ada di atas perancah perlu dibersihkan segera. Semua alat kerja harus dimasukkan ke dalam kantong saat diangkut; dilarang melemparkannya, kecuali jika ada perlindungan keselamatan yang memadai. Pekerjaan di ketinggian: Setiap pekerjaan yang dilakukan pada ketinggian lebih dari 2 meter dari permukaan tanah, yang berpotensi menyebabkan jatuh, disebut pekerjaan di ketinggian. Pekerjaan di ketinggian dibagi menjadi dua kategori: Pekerjaan di ketinggian tingkat satu: 2–5 meter ; Tingkat dua: 5–15 M ; Tingkat tiga, 15–30 M ; Tingkat 4, lebih dari 30M. Langkah-langkah penanggulangan utama: ☞1. Pertama-tama, perlu dipasang fasilitas perlindungan keselamatan yang memadai, seperti pagar pengaman, papan pijakan, dan jaring pengaman. ☞2. Jika fasilitas tersebut belum cukup, maka perlu digunakan sabuk pengaman. Cara mengenakan sabuk pengaman yang benar adalah dengan mengikatnya di bagian atas agar dapat memberikan perlindungan yang efektif. ☞3. Kondisi fisik harus memenuhi syarat yang ditentukan. Orang-orang yang menderita hipertensi, hipoglikemia, epilepsi, atau penyakit lainnya yang dapat mengganggu kinerja, dilarang keras untuk bekerja di ketinggian. Langkah-langkah penanggulangan kebakaran: ☞ Dilarang keras melakukan pekerjaan yang membutuhkan api terbuka. Jika memang perlu menggunakan api terbuka, harus mendapatkan izin dari departemen pengelolaan konstruksi dan departemen keselamatan kerja. Harus ada orang yang mengawasi proses pekerjaan tersebut, dan api harus segera dipadamkan setelah pekerjaan selesai. ☞ Tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan las atau pemotongan menggunakan api di satu bidang vertikal yang sama. Tabung oksigen dan tabung asetilen harus disimpan sesuai aturan, tidak boleh dibiarkan terpapar sinar matahari langsung. Jarak antara kedua tabung tersebut harus minimal 5 meter, dan jaraknya dari sumber api harus minimal 10 meter. ☞ Jika ada bahan-bahan yang mudah terbakar atau meledak di bawah area tempat dilakukannya pekerjaan las atau pemotongan, harus diambil langkah-langkah perlindungan yang efektif. Harus ada orang yang mengawasi area tersebut. ☞ Jika terjadi kebakaran, harus segera memadamkannya, sambil melaporkan kejadian tersebut kepada departemen keselamatan kerja dan departemen pengelolaan konstruksi. ☞ Harus mempelajari cara-cara untuk menyelamatkan diri saat terjadi kebakaran. Bagaimana cara menjaga keselamatan saat bekerja di ketinggian? (1) Harus memakai perlengkapan pelindung sesuai aturan yang berlaku. Seperti mengenakan sepatu bersol lunak, memakai helm keselamatan, dan mengikat sabuk pengaman ; Sabuk pengaman harus dipasang di posisi yang tinggi namun digunakan pada bagian yang rendah. Jangan memakai sepatu kulit atau sepatu berhak keras saat bekerja. (2) Dilarang menggunakan tangga yang tidak memiliki fitur pencegah selip atau anak tangga yang rusak saat mendaki. Puncak tangga harus diletakkan pada posisi yang stabil, atau perlu ada orang yang membantu memegang tangga tersebut. (3) Perancah yang digunakan saat memanjat harus memenuhi persyaratan yang berlaku. Sebelum digunakan, periksa terlebih dahulu apakah ada kerusakan berupa retakan. Pastikan posisinya stabil, dan kedua tangga tersebut diikat dengan tali agar tetap kuat. (4) Perhatikan apakah perancah tersebut kokoh, kuat, dan seimbang. Setiap lapisan perlu dilengkapi dengan pagar dasar, dan tangga naik turun harus memiliki pegangan yang baik untuk menjaga keselamatan. (5) Di bawah tempat kerja yang berada di ketinggian, harus dipasang jaring pengaman. Untuk pekerjaan konstruksi yang tidak memiliki perlindungan berupa struktur penyangga di luar, harus dipasang jaring pengaman yang tetap pada ketinggian 4–6 meter. Selain itu, perlu juga dipasang jaring pengaman lainnya setiap 12 meter (setara dengan tinggi empat lantai). Pada saat yang sama, perlu pula dipasang jaring pengaman yang ikut naik seiring dengan kenaikan tinggi dinding tersebut. (6) Sebelum bekerja atau berjalan di atap dan permukaan atap yang ringan, harus dipasang papan loncat di atasnya, atau jaring pengaman yang mencakup seluruh bagian bawahnya. (7) Pada musim dingin, saat bekerja di tempat-tempat tinggi di daerah yang dingin, perlu berhati-hati agar tidak terpeleset akibat es. Tidak diperbolehkan menuangkan air di koridor atau perancah. (8) Saat bekerja di ketinggian dan terjadi badai petir atau awan tebal yang menandakan akan adanya hujan lebat, para pekerja yang berada di atas perancah harus segera meninggalkan tempat tersebut. Pembicaraan ke-6: Pengetahuan Pertolongan Darurat di Tempat Kejadian. Pertolongan darurat untuk cedera akibat kecelakaan: 1. Saat mengalami cedera akibat kecelakaan, jangan panik. Tetap tenang dan pertahankan ketertiban di tempat kejadian. 2. Dalam kondisi di mana lingkungan sekitar tidak membahayakan nyawa korban, sebaiknya jangan sembarangan memindahkan korban. 3. Jangan berikan minuman atau makanan apa pun kepada pasien yang terluka atau sakit untuk sementara waktu. 4. Jika terjadi kecelakaan dan tidak ada orang di tempat kejadian, segera berteriak meminta bantuan dari orang-orang di sekitar, atau usahakan untuk menghubungi pihak yang berwenang. Jangan biarkan korban yang terluka atau sakit ditinggalkan tanpa pengawasan. 5. Segera laporkan ke pihak berwenang mengenai lokasi kejadian, jumlah korban luka, kondisi para korban, serta tindakan yang telah dilakukan untuk menangani mereka. 6. Pasien diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahan cedera yang diderita, dengan memprioritaskan pasien yang kondisinya lebih parah terlebih dahulu, lalu yang kondisinya sedang. Prioritas juga diberikan pada pasien yang berada di dekat lokasi kejadian, sebelum pasien yang berada di tempat yang lebih jauh. 7. Untuk korban yang mengalami sesak napas atau kesulitan bernapas, segera lakukan pertolongan darurat. 8. Bagi mereka yang kondisinya sudah stabil, segera pindahkan ke rumah sakit terdekat. 9. Penanganan darurat di lokasi harus tunduk pada arahan pemimpin, dan tidak boleh bertindak secara semena-mena. Penanganan darurat akibat sengatan listrik: Yang paling penting dalam penanganan darurat ini adalah bertindak dengan cepat. Cepat dan benar memisahkan korban sengatan listrik dari sumber listrik, serta memberikan pertolongan pertama yang cepat dan tepat. Mendapatkan waktu berarti memperoleh nyawa. Metode pertolongan pertama yang digunakan di tempat kejadian sengatan listrik adalah metode pernapasan buatan dan kompresi jantung eksternal. Metode pernapasan buatan yang paling efektif adalah metode pernapasan mulut ke mulut. Tekan hidung korban yang terkena sengatan listrik, tarik napas dalam-dalam, lalu hembuskan napas ke mulut korban selama sekitar 2 detik. Setelah itu, segera jauhkan diri dari mulut korban dan lepaskan tekanan pada hidungnya, agar korban dapat bernapas sendiri selama sekitar 3 detik. Lakukan hal ini sebanyak 12 kali per menit. Metode kompresi jantung eksternal: Penolong berlutut di sisi korban yang terkena sengatan listrik, atau duduk di kedua sisi pinggang korban. Kedua tangan disatukan, dengan bagian pangkal telapak tangan diletakkan di atas bagian jantung korban, tepatnya di bawah tulang dada. Pangkal telapak tangan digunakan untuk menekan ke bawah secara vertikal, sehingga darah di dalam jantung keluar. Setelah itu, tekanan segera dilepaskan, sehingga dada kembali ke posisi semula dan darah mengisi kembali jantung. Proses ini dilakukan sebanyak 60 kali per menit. Begitu pernapasan dan detak jantung berhenti, harus segera dilakukan proses pernapasan buatan melalui mulut ke mulut serta kompresi dada. Jika hanya ada satu orang yang melakukan pertolongan di tempat kejadian, kedua metode tersebut dapat digunakan secara bergantian. Setiap 2–3 kali melakukan pernapasan buatan, lakukan kompresi dada sebanyak 10–15 kali. Penyelamatan harus dilakukan secara terus-menerus, jangan dihentikan sembarangan. Penyelamatan juga tidak boleh dihentikan selama proses pengangkutan. Penanganan darurat untuk heat stroke: Heat stroke merupakan penyakit akut yang disebabkan oleh suhu tinggi dan paparan sinar matahari. Setelah mengalami heatstroke, akan muncul gejala seperti pusing, sakit kepala, kelelahan di seluruh tubuh, rasa haus, jantung berdebar, mual, dan muntah. Pada kasus yang parah, penderita bisa tiba-tiba pingsan. Heat stroke dapat dibagi lagi menjadi heat stroke awal, heat stroke ringan, dan heat stroke berat. Cara pertolongan pertama untuk penderita heat stroke adalah: segera bawa penderita keluar dari lingkungan yang panas, pindahkan ke tempat yang sejuk dan berangin agar bisa beristirahat. Lepaskan pakaian penderita, biarkan ia berbaring dalam posisi terlentang, dan berikan minuman yang mengandung garam secukupnya. Untuk penderita gejala heat stroke ringan, tidak perlu diberikan pengobatan khusus; biarkan saja mereka pulih secara alami. Untuk pasien yang mengalami heat stroke parah, perlu segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dan pengobatan. Penanganan darurat akibat cedera: 1. Segera keluarkan korban dari tempat kejadian, berhati-hatilah agar korban tidak terluka lagi. Lakukan tindakan dengan hati-hati, cepat, dan tepat; jangan tarik korban secara paksa. Jika korban tertimbun sepenuhnya, sebaiknya kepala korban segera dibebaskan terlebih dahulu. Bersihkan kotoran, pasir, dan darah yang menumpuk di mulut dan hidung korban. Lepaskan pula ikatan pakaian korban agar ia dapat bernapas dengan lebih mudah. 2. Letakkan korban dalam posisi berbaring, dengan kepala miring ke satu sisi, agar cairan muntah tidak menghalangi pernapasan. 3. Saat luka berdarah, gunakan kain untuk menghentikan pendarahan dan bilas luka dengan air bersih. Bungkus luka tersebut dengan handuk bersih agar terhindar dari infeksi. 4. Saat terjadi patah tulang, gunakan perban gips atau bahan pengganti untuk memfiksasinya. 5. Bagi mereka yang tidak bernapas, lakukan respirasi buatan dengan cara menempelkan mulut ke mulut korban. 6. Pada orang yang jantungnya berhenti berdetak, lakukan kompresi dada. 7. Saat memindahkan korban, lakukan dengan hati-hati, hindari getaran dan gerakan yang berlebihan. Berikan transfusi darah dan cairan infus secepat mungkin, bila memungkinkan. Penanganan darurat akibat jatuh dari ketinggian: 1. Hilangkan benda-benda yang ada di tubuh korban, serta benda keras yang ada di dalam saku korban. 2. Selama proses pengangkutan dan pemindahan, leher dan tubuh bagian atas tidak boleh ditekuk atau diputar. Tulang belakang harus tetap dalam posisi lurus. Cara mengangkat tubuh dengan cara mengangkat bahu dan kaki secara bergantian sama sekali dilarang, agar tidak terjadi atau memperparah kondisi paralisis. 3. Luka tersebut perlu dibalut dengan baik di bagian yang terluka. Namun, pada pasien yang diduga mengalami fraktur dasar tengkorak atau kebocoran cairan serebrospinal, sebaiknya jangan dilakukan tindakan pengisian di area tersebut, agar tidak terjadi infeksi di dalam tengkorak. 4. Pasien yang mengalami cedera di daerah wajah dan rahang perlu mempertahankan saluran pernapasan yang tetap terbuka. Selain itu, kancing-kancing di bagian leher dan dada pasien perlu dibuka. 5. Untuk cedera kompleks, pasien perlu berbaring dalam posisi terlentang, agar saluran pernapasan tetap terbuka. Kancing kerah baju juga perlu dibuka. 6. Cedera pada pembuluh darah di sekitar, akibat tekanan pada batang arteri yang berada di atas bagian yang cedera, hingga ke tulang. Letakkan perban tebal langsung di atas luka, lalu balut dengan kain kasa untuk memberikan tekanan, agar tidak terjadi pendarahan dan aliran darah di anggota tubuh tetap lancar. Cara ini umumnya efektif. 7. Bawa pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan secara cepat dan stabil. Dalam pertolongan darurat di lokasi kebakaran, saat tiba di suatu tempat baru, sebaiknya terlebih dahulu mengenal lingkungan sekitar, termasuk mengetahui letak jalur evakuasi dan fasilitas pemadam kebakaran. Jika terjadi kebakaran, jangan panik. Segera hubungi petugas pemadam kebakaran, lakukan upaya pemadaman sekaligus upaya penyelamatan diri. Jika ini merupakan kebakaran awal, tentukan sumber api terlebih dahulu, lalu gunakan alat pemadam api yang ada di sekitar atau selimut basah untuk memadamkan api ; Jika api berkobar terlalu hebat atau titik kebakaran berada di luar rumah, dan pintu menjadi sangat panas, berarti di luar sudah terjadi kebakaran yang parah. Jangan membuka pintu secara sembarangan, apalagi melompat dari gedung. Jika situasinya sangat darurat, Anda dapat merobek selimut atau pakaian menjadi potongan-potongan kecil, lalu menggunakannya untuk turun dari jendela. Atau, siram dinding dan pintu dengan air agar api tidak menyebar. Kamar mandi merupakan tempat terbaik untuk bertahan hidup. Jangan biarkan waktu terbuang karena membersihkan barang bawaan dan barang berharga. Tidak boleh berjalan tegak saat asap tebal menyelimuti. Setelah kebakaran menyebabkan asap tebal, sebaiknya merangkak di tanah untuk menghindari terpapar asap dan keracunan. Jika ada api di tanah, sebaiknya pakai sepatu. Jika tubuh terbakar, jangan sekali-kali berlari. Segera lepaskan pakaian yang terbakar, atau berbaring di tanah sambil berguling untuk memadamkan api tersebut. Untuk pertolongan dalam kasus tenggelam, jika ada tali, papan kayu, atau benda lain yang tidak mudah tenggelam di sekitar korban, benda-benda tersebut dapat dilemparkan kepada korban agar ia bisa ditarik ke darat ; Orang yang memiliki keterampilan berenang yang baik dapat dengan cepat mendekati korban dari belakang, lalu memegang rambutnya atau mencengkeram ketiaknya, sehingga korban dapat diselamatkan ke permukaan air dengan cara berenang terbalik. Setelah diselamatkan ke darat, segera letakkan korban dalam posisi terlentang, lepaskan ikatan pakaian, dan bersihkan kotoran serta rumput yang menempel di mulut dan hidungnya, agar saluran pernapasan tetap terbuka. Mengendalikan kadar air juga sangat penting. Penyelamat berlutut dengan satu kaki, lalu meletakkan kepala orang yang tenggelam menghadap ke bawah, sedangkan perutnya menempel di lutut penyelamat. Dengan cara ini, air yang terkumpul di paru-paru dan lambung dapat dikeluarkan ; Atau, angkat korban yang tenggelam di atas bahu, letakkan perutnya di atas tulang bahu orang yang menolongnya, lalu berjalan dengan cepat sambil membuang air dari mulut korban. Cara ini juga dapat berfungsi sebagai alat bantu pernapasan. Waktu pengendalian kadar air sebaiknya tidak terlalu lama, terutama ketika efek pengendalian tersebut tidak begitu signifikan. Dalam situasi seperti itu, perlu segera diambil tindakan pertolongan darurat lainnya. Misalnya, di satu sisi dilakukan pernapasan buatan, dan di sisi lain dilakukan kompresi jantung eksternal. Kedua tindakan tersebut harus dilakukan secara bersamaan (yaitu, setiap kali bernapas buatan, dilakukan kompresi jantung sebanyak 4–5 kali). Sebaiknya, kedua tindakan ini dilakukan secara terkoordinasi oleh dua orang. Jika korban tenggelam menggigit giginya dengan kuat, cara melakukan ventilasi buatan dapat diubah dari mulut ke mulut menjadi mulut ke hidung. Namun, apa pun cara yang digunakan, prosesnya harus dilakukan secara terus-menerus. Karena cukup banyak korban tenggelam yang berada dalam kondisi “kematian semu” pada saat itu, peluang untuk diselamatkan masih sangat besar. Penanganan darurat tersebut sebaiknya dilakukan di tempat kejadian, agar tidak terjadi keterlambatan akibat perjalanan ke rumah sakit. Pada saat yang sama, segeralah hubungi dokter. Dokter akan menggunakan obat peningkat fungsi jantung dan stimulan pernapasan sesuai kebutuhan selama proses pertolongan, yang seringkali sangat membantu dalam memperbaiki gangguan pernapasan dan sirkulasi secepat mungkin.
Reply #22016-11-23
Sebagian besar telah dikompresi~~~~ Kurang memperhatikan bentuknya~~~
Reply #32016-11-24
Sebaiknya ada anime dan contoh, teksnya terlalu membosankan! Melihat judulnya, saya terkejut. . . . . . . ?
Reply #42016-11-24
Jika hal-hal dasar ini dapat diterapkan dengan baik, sebagian besar masalah kecil dapat dihindari.
Reply #52016-11-24
Barangnya agak sedikit. Saya kira teks tersebut merupakan penjelasan mengenai produknya, dan nantinya akan ada file kompresi atau semacamnya

Submit a Project

**Looking for Chemical Technology, Equipment & Solutions?** No Registration Required Broader Platform Exposure | Global Chemical Service Provider Connections

Submit Request — Free Consultation

Disclaimer

This is an automated machine translation of the original thread. Some technical terms may have inaccuracies; the original text shall prevail. Click "View Original" at the top right to access the source page, which supports IP-based automatic real-time language translation. Please watch out for contact details and sales inducements to prevent fraud. All content and translations are for reference only, representing solely the poster's personal views. For enquiries, email service@hcbbs.com.