HCBBS Forum (Bahasa Indonesia)
Submit Chemical Projects / Find Solutions
Amplify Your Requirements on a Broader Chemical Platform *Engineering · Technology · Equipment · Solutions*
Submit Request

Panduan Praktis | Sebuah panduan lengkap untuk manajemen di lokasi pabrik, simpanlah dengan baik!

2016-12-16View Original

Thread Content

Manajemen bengkel merupakan bagian penting dari proses produksi di pabrik. Bagaimana melakukan manajemen bengkel sangat penting, terutama untuk kualitas produk dan keselamatan produksi. Hari ini, Certified Jun akan berbagi dengan Anda panduan lengkap untuk manajemen di lokasi pabrik. Silakan simpan dengan baik! 1. Fungsi manajemen bengkel: Penyusunan rencana. Rencana merupakan fungsi utama dalam setiap kegiatan manajemen ekonomi ; Itu merupakan ciri umum dari semua bentuk produksi modern yang berskala besar ; Adalah panduan untuk berbagai pekerjaan ; Adalah alat penting untuk menggerakkan dan mengorganisir karyawan perusahaan guna memproduksi produk yang dibutuhkan oleh pelanggan. Fungsi perencanaan dalam manajemen bengkel adalah untuk menetapkan tujuan-tujuan aktivitas di seluruh bengkel serta berbagai indikator teknis dan ekonomi yang diperlukan. Dengan demikian, setiap tahap proses produksi maupun setiap karyawan memiliki target yang jelas untuk dicapai. Selain itu, hal ini juga memungkinkan berbagai elemen produksi saling terhubung dan terkoordinasi dengan baik, sehingga terbentuklah sistem produksi yang utuh. Dengan adanya rencana, maka ada arah dan tujuan untuk bertindak ; Dengan adanya rencana, maka ada dasar untuk melakukan pengecekan dan perbaikan ; Dengan adanya rencana, maka ada standar untuk mengukur hasil kerja setiap karyawan di setiap unit. Bengkel tidak terlibat dalam kegiatan bisnis di luar pabrik. Dasar penyusunan rencana di bengkel adalah rencana yang ditetapkan oleh perusahaan, serta kondisi sumber daya yang ada di bengkel tersebut. Selain menetapkan arah dan tujuan produksi serta operasional setiap tahunnya, bengkel juga membuat rencana kerja produksi, rencana pengendalian biaya kualitas, serta rencana perawatan peralatan berdasarkan periode bulanan, mingguan, atau harian. Pengorganisasian dan pengendalian merupakan prasyarat yang tak terpisahkan dari pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Hal ini merupakan bagian penting dalam mewujudkan rencana-rencana di bengkel, memastikan kelancaran proses produksi, menciptakan keseimbangan dalam operasional produksi, serta melakukan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan. Fungsi pengorganisasian dan pengendalian di bengkel: Pertama, berdasarkan tujuan bengkel, perlu dibentuk struktur organisasi manajemen dan proses kerja yang efektif. Hal ini mencakup penentuan struktur lembaga manajemen, pemilihan dan penempatan para manajer, serta pengorganisasian dan pendistribusian tenaga kerja. Kedua, melalui organisasi dan sistem yang ada, serta penerapan seni kepemimpinan, dilakukan pengaturan, pembimbingan, dan pengawasan terhadap kelompok kerja dan para karyawan, sehingga kegiatan mereka berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dengan demikian, tercipta koordinasi dalam tindakan-tindakan mereka. Pengawasan dan kontrol merupakan kegiatan manajemen yang bertujuan untuk memastikan pelaksanaan berbagai sistem manajemen, penerapan rencana-rencana yang telah disusun, serta pematuhan terhadap instruksi-instruksi dari atasan. Dengan kata lain, pengawasan merupakan upaya untuk mendorong agar segala hal tersebut dapat terealisasi. http://mmbiz.qpic.cn/mmbiz/57qSkDX4Xt2IN4KDs2RnXPhsUsUFXroADuD985BvEsnj6HjGicFJCdEM0CVMXmfnUfh9oD7afttqBmvQib0eUcicg/0?wx_fmt=png Kontrol merupakan kegiatan manajemen yang dilakukan dalam proses pelaksanaan rencana dan berbagai kegiatan produksi serta operasional. Dalam kegiatan ini, kondisi aktual pelaksanaan dibandingkan dengan standar target yang telah ditetapkan, sehingga dapat ditemukan kesenjangan-kesenjangan yang ada, dicari penyebabnya, dan diambil tindakan yang tepat. Layanan produksi: http://mmbiz.qpic.cn/mmbiz/57qSkDX4Xt2IN4KDs2RnXPhsUsUFXroADuD985BvEsnj6HjGicFJCdEM0CVMXmfnUfh9oD7afttqBmvQib0eUcicg/0?wx_fmt=png Karena bengkel merupakan unit yang langsung bertanggung jawab atas proses produksi, maka layanan produksi merupakan fungsi yang sangat penting dalam manajemen bengkel. Isi layanan produksi: Bimbingan teknis. Dalam proses produksi, perlu selalu membantu para pekerja dalam menyelesaikan masalah-masalah teknis, termasuk penyempurnaan proses produksi dan pengembangan peralatan yang digunakan ; Layanan penggunaan peralatan bengkel dan layanan perbaikan ; Bahan baku dan layanan tenaga, dll ; Membantu tim kerja dalam melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pihak-pihak di luar bengkel ; Layanan kehidupan sehari-hari. Meningkatkan moral karyawan: http://mmbiz.qpic.cn/mmbiz/57qSkDX4Xt2IN4KDs2RnXPhsUsUFXroADuD985BvEsnj6HjGicFJCdEM0CVMXmfnUfh9oD7afttqBmvQib0eUcicg/0?wx_fmt=png. Kualitas pengelolaan perusahaan sangat bergantung pada moral karyawan yang bekerja di lapangan produksi. Karena, dalam kondisi tertentu, manusialah faktor yang menentukan segalanya. Sedangkan bengkel memiliki tanggung jawab untuk secara langsung meningkatkan semangat para karyawan. Meningkatkan moral karyawan berarti menggunakan berbagai cara untuk memotivasi semangat dan kreativitas mereka. Karyawan perlu dilibatkan secara aktif dalam kegiatan manajemen, sehingga pengalaman dan pengetahuan mereka dapat dimanfaatkan sepenuhnya. Dengan demikian, potensi manusia dapat teroptimalkan, efisiensi kerja pun meningkat, dan tugas-tugas di pabrik dapat diselesaikan dengan baik. Semua fungsi dalam manajemen bengkel saling terkait dan saling mendukung satu sama lain. Yang menjalankan fungsi-fungsi ini adalah kepala bengkel, wakil kepala bengkel, kepala bagian, pemimpin kelompok kerja, serta staf fungsional di bengkel. 2. Bagaimana cara mengelola bengkel? Sebagai seorang manajer bengkel produksi yang baik, seseorang harus menjadi pelaku aktif dalam menerapkan budaya perusahaan. Satu **, yang memiliki kekhasan nasional yang tidak dimiliki oleh ** lainnya ; Sebuah bangsa memiliki semangat nasional yang berbeda dari bangsa-bangsa lainnya ; Bahkan orang biasa sekalipun, memiliki pilar spiritual yang membedakannya dari yang lain! Dengan demikian, **barulah suatu bangsa dapat berkembang dan makmur, bangsa tersebut dapat bertahan lama, dan setiap individu dapat menjadi tangguh. Sebagai sebuah perusahaan, pilar spiritual dan jiwa perusahaan tersebut adalah “budaya perusahaan”. Jika dilihat pada 500 perusahaan terbesar di dunia, semuanya sangat memperhatikan dan secara aktif menerapkan budaya perusahaan mereka. Untuk dapat mengelola bengkel produksi dengan baik, seorang manajer bengkel produksi yang hebat perlu terlebih dahulu menerapkan budaya perusahaan secara aktif. Dengan demikian, budaya perusahaan dapat digunakan untuk membentuk perilaku karyawan dan memotivasi mereka. Dengan menerapkan budaya perusahaan, karyawan dapat memahami sejarah perkembangan perusahaan, sehingga rasa percaya mereka terhadap perusahaan pun meningkat, dan mereka akan mencintai perusahaan tersebut ; Dengan menerapkan budaya perusahaan, karyawan akan memahami tujuan, visi, dan arah pengembangan perusahaan. Hal ini akan meningkatkan kepercayaan karyawan terhadap perusahaan, sehingga mereka menjadi lebih setia dan bersedia berkorban untuk perusahaan tersebut ; Dengan menerapkan budaya perusahaan, karyawan dapat memahami berbagai aturan yang berlaku di perusahaan, mengetahui tujuan pengembangan diri mereka sendiri, serta memiliki rasa kompetitif. Hal ini pada gilirannya akan mendorong perkembangan produksi perusahaan. Harus pandai memanfaatkan berbagai kesempatan dan situasi untuk secara aktif menerapkan budaya perusahaan, sehingga budaya perusahaan tersebut hadir di mana-mana dan meresap ke segala aspek. Pembuatan dan penerapan sistem manajemen: http://mmbiz.qpic.cn/mmbiz/57qSkDX4Xt2IN4KDs2RnXPhsUsUFXroADuD985BvEsnj6HjGicFJCdEM0CVMXmfnUfh9oD7afttqBmvQib0eUcicg/0?wx_fmt=png. Sebagai seorang manajer bengkel produksi yang baik, seseorang harus mampu membuat dan menerapkan sistem manajemen yang efektif. Tanpa aturan, segalanya tidak akan berjalan dengan baik. Setiap kelompok yang kehilangan pengendalian disiplin, pasti akan menjadi seperti sekumpulan pasir yang tidak terorganisir, dan tidak memiliki kekuatan tempur sama sekali. Sebagai seorang manajer bengkel produksi yang baik, seseorang tidak hanya perlu memahami dan menerapkan sistem manajemen yang sudah ada di perusahaan, tetapi juga perlu secara bertahap membangun sistem manajemen yang lebih lengkap di bengkel tersebut. Perlu pula ditetapkan aturan-aturan perilaku bagi para karyawan, serta disusun dokumen-dokumen yang bersifat praktis. Setiap tindakan harus memiliki aturan yang jelas, dan aturan-aturan tersebut perlu diperbarui sesuai dengan umpan balik yang diterima, sehingga tidak ada lagi situasi di mana tidak ada aturan yang berlaku. Dengan demikian, perilaku para karyawan dapat dikendalikan dari berbagai aspek. Dan melalui pemeriksaan rutin, dapat dikembangkan secara bertahap kebiasaan kerja yang baik pada para karyawan. Karyawan didorong untuk selalu bertindak sesuai dengan prosedur yang berlaku, sehingga perilaku baik dapat ditegakkan dan perilaku buruk dapat diperbaiki. Hal ini menciptakan dasar yang kuat bagi pengelolaan bengkel yang lebih teratur. Sebagai seorang manajer bengkel produksi yang baik, seseorang harus menjadi pendukung dan pelaksana praktik keselamatan kerja yang efektif. http://mmbiz.qpic.cn/mmbiz/57qSkDX4Xt2IN4KDs2RnXPhsUsUFXroADuD985BvEsnj6HjGicFJCdEM0CVMXmfnUfh9oD7afttqBmvQib0eUcicg/0?wx_fmt=png Keamanan demi produksi, produksi harus aman. Keamanan produksi merupakan jaminan paling mendasar bagi perkembangan perusahaan dan masyarakat. 3. Faktor manusia, mesin, bahan, metode, dan lingkungan: Pekerjaan yang berbeda memerlukan langkah-langkah keamanan yang berbeda pula, di tempat dan waktu yang berbeda. Langkah-langkah keamanan di area produksi dapat diringkas sebagai pengelolaan dan pengaturan terhadap kelima faktor tersebut, yaitu manusia, mesin, bahan, metode, dan lingkungan. ““Manusia”, yaitu pengelolaan manusia itu sendiri. http://mmbiz.qpic.cn/mmbiz/57qSkDX4Xt2IN4KDs2RnXPhsUsUFXroADuD985BvEsnj6HjGicFJCdEM0CVMXmfnUfh9oD7afttqBmvQib0eUcicg/0?wx_fmt=png Pengelolaan keamanan pada dasarnya merupakan pengelolaan terhadap manusia itu sendiri. Prosedur penentuan kebutuhan tenaga kerja di bengkel produksi harus sangat terstandarisasi. Untuk karyawan yang dibutuhkan di bengkel, berdasarkan dokumen rinci mengenai calon karyawan yang direkomendasikan oleh perusahaan, akan dibuat dulu kemungkinan penempatan kerja sementara. Setelah itu, mereka akan bekerja di posisi pendukung selama beberapa waktu untuk beradaptasi. Selama masa penyesuaian ini, bengkel menggunakan tingkat rasa tanggung jawab sebagai tolok ukur dasar untuk menilai karyawan tersebut. Setelah itu, dilakukan penilaian keseluruhan berdasarkan tingkat keahlian operasional karyawan tersebut, dan hasilnya dicatat dalam bentuk dokumen tertulis untuk disampaikan kepada perusahaan, guna menentukan posisi kerja yang tepat bagi karyawan tersebut. Bagi mereka yang dinilai tidak memenuhi syarat untuk menempati posisi tersebut pada tahap penilaian awal, bengkel akan meningkatkan kemampuan keseluruhan karyawan tersebut melalui pelatihan dan pendidikan ulang, agar mereka dapat memenuhi persyaratan yang diperlukan. Jika karyawan tersebut masih tidak mampu melaksanakan tugasnya, maka perekrutannya akan ditolak. Dalam proses produksi sehari-hari, manajer pabrik perlu memperhatikan komunikasi dengan karyawan. Dengan menggunakan berbagai cara motivasi seperti pujian dan hadiah, mereka dapat meningkatkan rasa percaya diri dan semangat kerja para karyawan. ““Mesin”, yaitu peralatan mesin yang digunakan dalam proses produksi. http://mmbiz.qpic.cn/mmbiz/57qSkDX4Xt2IN4KDs2RnXPhsUsUFXroADuD985BvEsnj6HjGicFJCdEM0CVMXmfnUfh9oD7afttqBmvQib0eUcicg/0?wx_fmt=png Peralatan mesin merupakan kondisi material yang diperlukan oleh perusahaan untuk melakukan kegiatan produksi. Peralatan ini juga merupakan faktor penting untuk memastikan keselamatan dalam proses produksi. Sebagai manajer bengkel produksi, seseorang perlu membuat “plakat tanggung jawab peralatan” khusus untuk setiap mesin, sesuai dengan tingkat kompleksitas perawatan mesin tersebut. Dengan demikian, akan ada orang yang bertanggung jawab atas perawatan mesin tersebut. Perusahaan secara berkala melakukan inspeksi terhadap manajemen di lapangan, serta menetapkan sistem penghargaan dan hukuman yang sesuai, sehingga setiap orang yang bertanggung jawab atas peralatan tersebut memiliki kebiasaan yang baik dalam merawat peralatan tersebut secara rutin. Saat proses serah terima tugas antar pegawai, harus ada catatan mengenai kondisi operasional mesin-mesin tersebut. Jika ditemukan adanya kelainan dalam operasi mesin, hal tersebut perlu segera dilaporkan agar dapat diperbaiki tepat waktu. Selain itu, sebaiknya diadakan secara berkala pelatihan pengoperasian mesin dan peralatan, maupun pelatihan teoretis, guna mencapai tujuan pengoperasian yang aman. ““Bahan”, yaitu pengelolaan bahan-bahan tersebut. http://mmbiz.qpic.cn/mmbiz/57qSkDX4Xt2IN4KDs2RnXPhsUsUFXroADuD985BvEsnj6HjGicFJCdEM0CVMXmfnUfh9oD7afttqBmvQib0eUcicg/0?wx_fmt=png Pengelolaan bahan merupakan faktor penting dalam keselamatan produksi. Karena sifat khusus dari bahan-bahan kimia, perubahan sifat bahan tersebut berlangsung dengan sangat cepat. Dengan kata lain, dari suhu rendah ke suhu tinggi, dari tekanan rendah ke tekanan tinggi, atau dari keadaan encer menjadi kental, semuanya dapat terjadi dalam sekejap saja, hanya dengan penambahan bahan tertentu. Bengkel harus memulai prosesnya dari petugas pengambil bahan baku. Mereka perlu mendapatkan pelatihan yang memadai, agar mereka memahami proses produksi secara menyeluruh, mengetahui sifat kimia dan fisika setiap jenis bahan baku, serta mampu menghitung jumlah bahan baku yang diperlukan dalam sehari dengan tepat. Untuk bahan-bahan yang tidak boleh disimpan, dilarang keras untuk dibiarkan berada di bengkel. Bahan-bahan tersebut harus diambil dan digunakan segera setelah dibutuhkan. Petugas pengambilan bahan harus segera memeriksa bahan-bahan yang ada di gudang. Dilarang keras untuk memasukkan bahan yang tidak memenuhi standar ke dalam bengkel produksi. Untuk itu, bengkel juga perlu membuat sistem penilaian khusus, guna membentuk sikap kerja yang serius dan teliti pada para karyawan. ““Metode”, yaitu cara pelaksanaan tindakan tersebut. Petunjuknya dapat dilihat di http://mmbiz.qpic.cn/mmbiz/57qSkDX4Xt2IN4KDs2RnXPhsUsUFXroADuD985BvEsnj6HjGicFJCdEM0CVMXmfnUfh9oD7afttqBmvQib0eUcicg/0?wx_fmt=png. Metode ini merupakan panduan untuk melaksanakan suatu tindakan, dan jalur yang digunakan dalam proses pelaksanaan tersebut tidak boleh berubah. Beberapa pekerja, terutama yang masih baru, sering memiliki keraguan mengenai cara melaksanakan tugas-tugas tersebut. Sebagai manajer bengkel produksi, selain memberikan penjelasan, perlu juga mengirimkan pekerja berpengalaman untuk membimbing mereka secara langsung, hingga mereka benar-benar memahami dan menguasainya. Untuk mengurangi risiko keamanan, bengkel juga perlu menggunakan alat pencatat yang menampilkan data berdasarkan catatan awal, dan melakukan pemeriksaan secara berkala. Dengan demikian, para pekerja akan selalu waspada, sehingga proses operasional dapat dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku. ““Lingkungan”, yaitu pengelolaan lingkungan sekitar. http://mmbiz.qpic.cn/mmbiz/57qSkDX4Xt2IN4KDs2RnXPhsUsUFXroADuD985BvEsnj6HjGicFJCdEM0CVMXmfnUfh9oD7afttqBmvQib0eUcicg/0?wx_fmt=png Lingkungan dapat mempengaruhi keselamatan produksi, dan juga merupakan prasyarat untuk menciptakan produk berkualitas tinggi. Sebagai manajer bengkel produksi, seseorang perlu menerapkan konsep manajemen 5S, yaitu “organisasi, penataan, pembersihan, kebersihan, dan disiplin”. Dengan memulai dari pengelolaan di lokasi kerja, dilakukan pemeriksaan secara internal maupun antar rekan kerja, lalu dibuat aturan-aturan yang sesuai dengan kondisi di bengkel tersebut. 4. Manajemen keselamatan kerja: Untuk setiap posisi kerja yang berbeda, bengkel perlu menetapkan aturan penilaian kinerja untuk masing-masing posisi tersebut. Penilaian dilakukan setiap minggu secara rutin, dan setiap bulan dilakukan penilaian yang lebih komprehensif. Hadiah atau hukuman diberikan sesuai dengan aturan yang tercantum dalam pedoman penilaian tersebut, sehingga tingkat kehati-hatian para pekerja dalam menjalankan tugasnya dapat ditingkatkan. Pada dasarnya, sebagai manajer bengkel produksi, seseorang perlu menyadari bahwa keselamatan kerja bukanlah pekerjaan yang bersifat sementara, melainkan proses yang harus dilakukan secara terus-menerus dalam jangka panjang. Dalam manajemen keselamatan produksi, perlu juga diperhatikan empat aspek berikut: ① Manajemen keselamatan yang berorientasi pada manusia harus tetap dijaga dengan ketat. Pertama-tama, pihak manajemen perlu memperbarui pola pikirnya, menghilangkan sikap konservatif yang enggan berubah dan tidak mau berinovasi ; Kedua, perlu berusaha keras untuk meningkatkan kualitas karyawan, dengan memastikan bahwa mereka memenuhi standar yang ditetapkan, baik dari segi kemampuan maupun sikap mentalnya. Semua harus dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku. Perlu pandai memahami dinamika pemikiran para karyawan, agar potensi masalah dapat diatasi sebelum mereka mulai bekerja ; Selanjutnya, perlu ditingkatkan cara dan metode kerja. Perlu digunakan berbagai bentuk yang fleksibel dalam menjalankan pekerjaan, sehingga tetap ada disiplin namun tidak kaku. Perlu pula diperhatikan aspek emosional, agar tercipta suasana tim yang harmonis. ②Manajemen keamanan harus memperhatikan pengendalian terhadap proses pelaksanaan pekerjaan. Pertama, perlu dibentuk mekanisme penilaian manajemen. Para manajer harus memperkuat pengawasan dan pemeriksaan terhadap proses kerja di lapangan, sehingga dapat mengidentifikasi dan menangani potensi bahaya yang muncul selama proses tersebut berlangsung. Dengan demikian, praktik-praktik formalisme dapat dihilangkan ; Kedua, dilakukan penilaian dan pemeriksaan terhadap unit-unit di tingkat dasar, dengan menggabungkan hasil penilaian dengan prosesnya. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan di lapangan, sehingga tidak ada kesan subjektivitas dalam penilaian tersebut. ③Manajemen keamanan perlu beralih dari manajemen yang dilakukan oleh pihak eksternal menjadi manajemen yang dilakukan oleh tim kerja itu sendiri. Pertama-tama, perlu dibentuk mekanisme penilaian untuk setiap kelompok kerja. Perlu juga dibuat kerangka penilaian yang mencakup penilaian terhadap setiap posisi dalam kelompok kerja tersebut. Tanggung jawab dan wewenang perlu didelegasikan kepada kelompok kerja, sehingga tanggung jawab dan wewenang tersebut dapat dijadikan sebagai motivasi bagi setiap karyawan untuk secara aktif berpartisipasi dalam pengelolaan keamanan. Dengan demikian, dapat tercipta sistem pengendalian diri, saling mengendalikan, dan pengendalian dari pihak luar dalam proses pengelolaan keamanan. Dengan mewujudkan manajemen diri di tingkat kelompok kerja, barulah garis pertahanan pertama dapat dibangun dengan kokoh dari dasar yang kuat. ④Manajemen keamanan harus dilakukan dengan pencegahan yang proaktif, dengan memfokuskan perhatian pada titik-titik kritis sejak dini, serta dengan menekankan pentingnya contoh-contoh yang baik. Pertama, perlu bertindak proaktif, mencari tekanan untuk diri sendiri, dan berani mengungkap keburukan-keburukan tersebut. Terhadap potensi bahaya yang ada, perlu diidentifikasi contoh-contoh khasnya, lalu dilakukan analisis secara mendalam. Dengan demikian, pihak yang bertanggung jawab akan tergerak untuk mengambil tindakan, dan para karyawan pun dapat memperoleh pelajaran dari hal tersebut. Kedua, perlu ditekankan pentingnya penerapan langkah-langkah pencegahan. Prinsip yang harus dipegang adalah pendekatan yang berfokus pada pencegahan. Terhadap masalah-masalah umum yang ditemukan melalui pemeriksaan rutin atau proses manajemen, perlu segera dibuat langkah-langkah pencegahan untuk mengatasinya. Selain itu, perlu juga ditentukan siapa orang-orang kunci dan posisi-posisi penting dalam proses kerja tersebut, agar dapat dikendalikan dengan baik, sehingga tujuan pencegahan masalah dapat tercapai. Sebagai seorang manajer bengkel produksi yang baik, seseorang perlu berusaha menghindari segala bentuk pemborosan yang tidak perlu, serta menghemat biaya dan sumber daya. Dalam proses produksi pada umumnya, dalam kegiatan sehari-hari sering terjadi berbagai bentuk “pemborosan”. Sebenarnya, dalam manajemen produksi juga sering ditemukan “tujuh jenis pemborosan”. “Tujuh jenis pemborosan” ini tidak hanya terjadi di lokasi produksi. Jika kita hanya fokus pada masalah-masalah yang ada di lokasi produksi, tanpa menyelesaikan masalah-masalah mendasar yang tersembunyi di baliknya, maka hal tersebut merupakan tindakan yang salah arah. Meskipun tampaknya segalanya berjalan dengan baik, namun hasilnya tetap terbatas. Oleh karena itu, sebagai seorang manajer bengkel produksi yang baik, seseorang tidak hanya perlu memahami penyebab dari “tujuh jenis pemborosan” tersebut, tetapi juga perlu berusaha menghindari dan menghilangkan faktor-faktor penyebab pemborosan tersebut. Dengan demikian, biaya dan sumber daya dapat dihemat, serta efisiensi produksi dapat ditingkatkan. - Selesai -
Reply #22016-12-18
Ditulis secara praktis, layak untuk dipelajari*
Reply #32016-12-18
Ditulis secara praktis, layak untuk dipelajari*

Submit a Project

**Looking for Chemical Technology, Equipment & Solutions?** No Registration Required Broader Platform Exposure | Global Chemical Service Provider Connections

Submit Request — Free Consultation

Disclaimer

This is an automated machine translation of the original thread. Some technical terms may have inaccuracies; the original text shall prevail. Click "View Original" at the top right to access the source page, which supports IP-based automatic real-time language translation. Please watch out for contact details and sales inducements to prevent fraud. All content and translations are for reference only, representing solely the poster's personal views. For enquiries, email service@hcbbs.com.